Yuk tanam jamur sendiri di rmh. Caranya gampang:
1. 79% serbuk kayu + 20% dedak (boleh diganti tepung jagung, tepung beras, dll) + 1% kapur/gipsum
2. Aduk rata dan tambahkan air sampai kadar air serbuk kayu menjadi 65-70%
3. Sterilkan dgn menggunakan dandang atau panci presto (dgn cara dikukus)
4. Dinginkan dan masukkan kembali ke dlm ember yg di telah disemprotkan alkohol 70%
5. Masukkan benih jamur 3% dr bobot media
6. Aduk dgn menggunakan sendok atau tangan yg bersih
7. Tempatkan pd tempat apa saja yg kamu suka tp hrs ada lubang utk tempat bernafas miselia jamur
8. Tunggu 20-25 hari, keluar deh bakal jamurnya
Selamat mencoba!!!
Selasa, 17 Februari 2015
Selasa, 01 Oktober 2013
Bibit Jamur
Flammulina veltipes (Enokitake), Grifola frondosa (Maitake), Pleurotus eryngii (king oyster), Hypsizigus marmoreus (bunashimeji), Auricularia auricula-judae (jamur kuping).
Apabila ada yang ingin memesan, hubungi saya di no HP 081388632022 dan Email: afrida.sitompul0214@gmail.comAfrida, PhD
Jumat, 20 September 2013
Produksi Jamur Shitake pada Media Log
Kegiatan inokulasi jamur shitake pada media log ini biasa dilakukan oleh grup laboratorium saya menjelang musim panas. Photo-photo ini saya ambil ketika saya masih sekolah di Jepang. Kegiatan ini seperti kegiatan rutin untuk anak-anak anggota baru pada lab saya. Setiap tahunnya pasti ada mahasiswa baru, sehingga agar mereka memiliki kecintaan pada bidang yang mereka tekuni yaitu di Lab Forest Biology Resource maka kegiatan tahunan ini dilakukan. Bisa dilihat di photo masih ada sisa-sisa salju.
Ada dua jenis bibit yang biasa digunakan yaitu bibit dalam bentuk kayu kapsul (botol atas) dan bibit serbuk kayu (botol bagian bawah). Bibit ini dibeli pada perusahaan khusus yang memproduksi bibit. Perusahaan ini memiliki lisense dalam produksi bibit. Bibit yang dijual adalah bibit yang sudah teruji dan memiliki kualitas yang baik. Pada setiap botol tertulis kode jamur, tanggal pembuatan, dan tanggal kadaluarsa.
Contoh bibit jamur pada kayu yang telah dibentuk meirip kapsul. Panjangnya kira-kira 2 cm dan lebarnya antara 0,1-0,3cm.
Pertama-tama log dibor dengan ukuran tidak jauh berbeda ukurannya dari bibit yang digunakan. Setiap log di bor pada 3 sisi log. Dari satu lubang bor ke lubang berikutnya berjarak 10-15 cm.
Untuk bibit yang berbetuk kapsul, diambil satu per satu dengan tangan (tidak steril) dan di palu ke dalam lubang yang telah di bor sebelumnya. Semua lubang terinokulasi bibit.
Untuk bibit berbentuk serbuk kayu, dipakai alat seperti pada photo. Alat ini terbuat dari tembaga yang ujung atasnya bisa ditekan dengan fleksibel agar bibit serbuk kayu yang ditancapkan ke dalam botol bisa keluar ketika bibit diinokulasi pada lubang log.
Pertama-tama alat yang terbuat dari tembaga ditancapkan ke dalam botol yang berisi bibit serbuk kayu. Bibit serbuk kayu akan tertahan di dalam lubang tembaga. Pengambilan bibit ini secara non-aseptis (tidak steril)
Alat tembaga yang telah berisi bibit serbuk kayu ditancapkan ke dalam log sambil menekan ujung atas tembaga, agar semua bibit serbuk kayu pindah ke dalam lubang log.
Tahap selanjutnya adalah mencairkan lilin. Ini berfungsi untuk menutupi lubang-lubang kayu yang telah diinokulasi bibit jamur agar tidak terkontaminasi ataupun di ganggu serangga.
Log yang telah diinokulasikan bibit jamur, permukaan lubang tersebut diolesi dengan lilin cair dengan cara memakai kuas. Lilin ini akan menutupi lubang-lubang tersebut dengan baik.
Beberapa bulan kemudian, bibit jamur yang diinokulasikan ke media log akan berubah menjadi jamur shitake.
Kegiatan ini cukup menyenangkan bagi mahasiswa terutama setelah melihat hasil jamur yang tumbuh pada log. Biasanya setelah jamur dipanen, kita akan masak bersama-sama di lab menikmati hasil panen yang ada.
In memory, Sapporo, Japan.
Afrida Sitmpul, PhD.
Ada dua jenis bibit yang biasa digunakan yaitu bibit dalam bentuk kayu kapsul (botol atas) dan bibit serbuk kayu (botol bagian bawah). Bibit ini dibeli pada perusahaan khusus yang memproduksi bibit. Perusahaan ini memiliki lisense dalam produksi bibit. Bibit yang dijual adalah bibit yang sudah teruji dan memiliki kualitas yang baik. Pada setiap botol tertulis kode jamur, tanggal pembuatan, dan tanggal kadaluarsa.
Contoh bibit jamur pada kayu yang telah dibentuk meirip kapsul. Panjangnya kira-kira 2 cm dan lebarnya antara 0,1-0,3cm.
Pertama-tama log dibor dengan ukuran tidak jauh berbeda ukurannya dari bibit yang digunakan. Setiap log di bor pada 3 sisi log. Dari satu lubang bor ke lubang berikutnya berjarak 10-15 cm.
Untuk bibit yang berbetuk kapsul, diambil satu per satu dengan tangan (tidak steril) dan di palu ke dalam lubang yang telah di bor sebelumnya. Semua lubang terinokulasi bibit.
Untuk bibit berbentuk serbuk kayu, dipakai alat seperti pada photo. Alat ini terbuat dari tembaga yang ujung atasnya bisa ditekan dengan fleksibel agar bibit serbuk kayu yang ditancapkan ke dalam botol bisa keluar ketika bibit diinokulasi pada lubang log.
Pertama-tama alat yang terbuat dari tembaga ditancapkan ke dalam botol yang berisi bibit serbuk kayu. Bibit serbuk kayu akan tertahan di dalam lubang tembaga. Pengambilan bibit ini secara non-aseptis (tidak steril)
Alat tembaga yang telah berisi bibit serbuk kayu ditancapkan ke dalam log sambil menekan ujung atas tembaga, agar semua bibit serbuk kayu pindah ke dalam lubang log.
Tahap selanjutnya adalah mencairkan lilin. Ini berfungsi untuk menutupi lubang-lubang kayu yang telah diinokulasi bibit jamur agar tidak terkontaminasi ataupun di ganggu serangga.
Log yang telah diinokulasikan bibit jamur, permukaan lubang tersebut diolesi dengan lilin cair dengan cara memakai kuas. Lilin ini akan menutupi lubang-lubang tersebut dengan baik.
Beberapa bulan kemudian, bibit jamur yang diinokulasikan ke media log akan berubah menjadi jamur shitake.
Kegiatan ini cukup menyenangkan bagi mahasiswa terutama setelah melihat hasil jamur yang tumbuh pada log. Biasanya setelah jamur dipanen, kita akan masak bersama-sama di lab menikmati hasil panen yang ada.
In memory, Sapporo, Japan.
Afrida Sitmpul, PhD.
Rabu, 03 Juli 2013
Pembuatan media F1 dan F2 dari jagung
Bismillahirrohmanirrohim
Setelah saya menuliskan bagaimana cara membuat PDA (potato dextrose agar) dan cara mengisolasi jamur dari jaringan tubuh buah, sekarang saya akan melanjutkan cara pembuatan media bibit turunan yang biasa disebut F1 dan F2. Media untuk ini biasanya dipilih di media biji-bijian karena kandungan proteinnya yang tinggi sehingga memudahkan miselia jamur untuk tumbuh. Banyak sekali jenis biji-bijian yang bisa digunakan mulai dari padi, jagung, kacang hijau, jawawut, gandum, dsb. Kali ini saya akan memaparkan bagaimana cara pembuatan media F1 dan F2 dari jagung. Cara sbb;
1. Kualitas jagung akan menentukan hasil bibit yang baik. Jangan pilih jagung yang busuk, kering, dan sudah menyusut.
2. Rendam jagung semalam (baiknnya dengan air mendidih), ini berfungsi untuk mengangkat kotoran yang ada di jagung termasuk mengangkat spora-spora jamur yang menempel pada jagung. Kemudian, dengan merendam jagung akan mempermudah dalam pemasakan.
3. Cuci bersih jagung sampai semua kotoran terangkat dan warna cucian menjadi bening.
4. Rebus jagung sampai setengah matang. Hindari jagung matang atau pecah karena dengan pecahnya jagung akan mempermudah akses makanan untuk jamur dan bakteri pengkontaminasi. Untuk mengetahui jagung yang diinginkan, tekan jagung dengan menggunakan jari jempol dan telunjuk, apabila jagung bagian luar agak lunak semantara bagian dalam agak keras, itu kondisi jagung yang baik untuk media bibit.
5. Tiriskan jagung sampai tidak ada lagi air yang menetes.
6. Untuk mengurangi kelebihan air pada jagung, jemurlah jagung di bawah sinar matahari kira-kira 1 jam apabila matahari terik. Kadar air yang diinginkan dari jagung adalah 50-60%.
7. Setelah kadar air tercapai, campurkan jagung dengan 1% gipsum. Fungsi dari gipsum adalah untuk memberikan mineral yang dibutuhkan selama pertumbuhan jamur, mengatur pH, dan juga untuk membuat bibit lebih mudah dipisahkan biji per biji sewaktu pembibitan.
8. Media bibit F1 dan F2 siap untuk dimasukkan ke dalam botol atau plastik.
Catatan: Biasanya saya menambahkan serbuk kayu ke media jagung dengan perbandingan 1:10 (kayu:jagung). Ini berfungsi untuk tetap menstimulasi metabolisme sekunder jamur agar tetap aktif, termasuk didalamnya mengaktifkan enzim pendegradasi lignin. Disamping itu, penambahan serbuk kayu ini akan mempermudah jamur beradaptasi ketika dipindahkan ke baglog.
Saya sangat senang apabila ada yang ingin berdiskusi mengenai jamur dan budidayanya. Silahkan kirim Email dengan bahasa indonesia yang baik dan sopan ke afrida.sitompul0214@gmail.com
Afrida
Setelah saya menuliskan bagaimana cara membuat PDA (potato dextrose agar) dan cara mengisolasi jamur dari jaringan tubuh buah, sekarang saya akan melanjutkan cara pembuatan media bibit turunan yang biasa disebut F1 dan F2. Media untuk ini biasanya dipilih di media biji-bijian karena kandungan proteinnya yang tinggi sehingga memudahkan miselia jamur untuk tumbuh. Banyak sekali jenis biji-bijian yang bisa digunakan mulai dari padi, jagung, kacang hijau, jawawut, gandum, dsb. Kali ini saya akan memaparkan bagaimana cara pembuatan media F1 dan F2 dari jagung. Cara sbb;
1. Kualitas jagung akan menentukan hasil bibit yang baik. Jangan pilih jagung yang busuk, kering, dan sudah menyusut.
2. Rendam jagung semalam (baiknnya dengan air mendidih), ini berfungsi untuk mengangkat kotoran yang ada di jagung termasuk mengangkat spora-spora jamur yang menempel pada jagung. Kemudian, dengan merendam jagung akan mempermudah dalam pemasakan.
3. Cuci bersih jagung sampai semua kotoran terangkat dan warna cucian menjadi bening.
4. Rebus jagung sampai setengah matang. Hindari jagung matang atau pecah karena dengan pecahnya jagung akan mempermudah akses makanan untuk jamur dan bakteri pengkontaminasi. Untuk mengetahui jagung yang diinginkan, tekan jagung dengan menggunakan jari jempol dan telunjuk, apabila jagung bagian luar agak lunak semantara bagian dalam agak keras, itu kondisi jagung yang baik untuk media bibit.
5. Tiriskan jagung sampai tidak ada lagi air yang menetes.
6. Untuk mengurangi kelebihan air pada jagung, jemurlah jagung di bawah sinar matahari kira-kira 1 jam apabila matahari terik. Kadar air yang diinginkan dari jagung adalah 50-60%.
7. Setelah kadar air tercapai, campurkan jagung dengan 1% gipsum. Fungsi dari gipsum adalah untuk memberikan mineral yang dibutuhkan selama pertumbuhan jamur, mengatur pH, dan juga untuk membuat bibit lebih mudah dipisahkan biji per biji sewaktu pembibitan.
8. Media bibit F1 dan F2 siap untuk dimasukkan ke dalam botol atau plastik.
Catatan: Biasanya saya menambahkan serbuk kayu ke media jagung dengan perbandingan 1:10 (kayu:jagung). Ini berfungsi untuk tetap menstimulasi metabolisme sekunder jamur agar tetap aktif, termasuk didalamnya mengaktifkan enzim pendegradasi lignin. Disamping itu, penambahan serbuk kayu ini akan mempermudah jamur beradaptasi ketika dipindahkan ke baglog.
Saya sangat senang apabila ada yang ingin berdiskusi mengenai jamur dan budidayanya. Silahkan kirim Email dengan bahasa indonesia yang baik dan sopan ke afrida.sitompul0214@gmail.com
Afrida
Informasi
Karena adanya gangguan dengan alamat Email saya sebelumnya, sehingga saya membuat harus membuat alamat baru. Silahkan mengirimkan pertanyaan atau ingin diskusi mengenai jamur ke afrida.sitompul0214@gmail.com atau bisa telepon dan sms saya ke 081388632022. Mohon kiranya mengirim pesan dengan bahasa Indonesia yang baik dan dapat dimengerti serta santun.
Terima kasih
Afrida
Terima kasih
Afrida
Minggu, 03 Februari 2013
Training untuk pembuatan bibit jamur (F0, F1, F2) dan baglog (media tumbuh jamur)
Apabila anda ingin melakukan sesuatu tentunya sebaiknya anda memiliki ilmu yang cukup. Begitu juga bagi anda yang ingin melakukan budidaya jamur, sebaiknya anda harus tahu ilmu dasar, teori, dan prakteknya. Apabila anda tertarik ingin menambah wawasan anda dibidang budidaya jamur, saya menawarkan training tentang pembuatan bibit jamur dan juga pembuatan baglog. Disamping training, saya juga menawarkan menjadi konsultan untuk pertanian jamur anda. Memberikan nasehat dan saran untuk anda yang ingin memiliki pertanian jamur sendiri. Hubungi di 081388632022 dan Email: afrida_sitompul@yahoo.com
Jual baglog terutama untuk wilayah Kalimantan
Saya bekerjasama dengan salah satu petani jamur di Balikpapan, menawarkan penjualan baglog untuk wilayah Kalimantan terutama Kalimantan Timur. Harga untuk 1 baglog adalah Rp 5000. Tetapi apabila pemesanan dalam partai besar, akan diberikan potongan harga. Harga diatas belum termasuk ongkos kirim. Segera hubungi saya di 081388632022 atau Email: afrida_sitompul@yahoo.com
Tips bagi anda pemula dalam budidaya jamur: Sebaiknya anda membeli baglog dari petani jamur yang sudah berpengalaman disekitar anda. Dan belilah baglog yang telah ditumbuhi miselia 80-100%. Karena ini akan lebih menjamin baglog tidak terkontaminasi.
Tips bagi anda pemula dalam budidaya jamur: Sebaiknya anda membeli baglog dari petani jamur yang sudah berpengalaman disekitar anda. Dan belilah baglog yang telah ditumbuhi miselia 80-100%. Karena ini akan lebih menjamin baglog tidak terkontaminasi.
Kamis, 24 Januari 2013
Jamur kayu, proses degradasi, dan pertumbuhannya
Apa sih
jamur kayu itu? Petani atau yang ingin bertani jamur sebaiknya harus tahu apa
jamur kayu itu. Karena sebagian besar jamur yang dibudidayakan adalah jamur
kayu, walaupun sebagian yg dibudayakan berasal dari kelompok mikoriza (jamur
yang bersimbiosis dengan akar tanaman).
Jamur
bersama bakteri adalah mikroorganisme yang memiliki peran penting dalam siklus
karbon, nitrogen, dan oksigen di muka bumi ini. Mereka adalah penghancur utama
(decomposer) bahan-bahan organik di alam. Seperti yang dilaporkan oleh Chang
dan Miles, 2004 dalam bukunya MUSHROOMS;
cultivation, nutritional value, medicinal effect, and environmental impact
bahwa jamur adalah organimisme yang tidak memiliki klorofil sebagaimana halnya
tumbuhan. Jamur tidak dapat menghasilkan makanan dari anorganik sederhana
seperti air, karbon dioksida, dan nitrat. Jamur menghasilkan makanannya dari
bahan organik kompleks, hidup maupun mati yang berasal dari tanaman maupun
hewan. Jamur yang memperoleh nutrisi dari bahan organik mati seperti dari
sisa-sisa hasil pertanian, kayu mati, ataupun dari kotoran hewan disebut jamur
saprofitik. Sedangkan jamur yang memperoleh nutrisi dari tanaman atau hewan
yang masih hidup disebut jamur parasitik. Jamur yang memperoleh nutrisi dengan
cara melakukan kerjasama yang saling menguntungkan dengan tanaman maupun hewan
disebut jamur simbiosis mutualisme.
Jamur-jamur
kayu adalah termasuk jamur kayu saprofit walaupun beberapa spesies memiliki
peran ganda sebagai saprofit dan parasit contohnya Ganoderma spp. Beberapa ahli jamur mengelompokkan jamur kayu
menjadi 2 bagian yaitu jamur pelapuk putih (white-rot fungi) adalah jamur yang
dapat menggunakan selulosa, hemiselulosa, dan lignin dengan bantuan enzim
selulase dan enzim ligninolitik sebagai sumber nutrisinya. Sedangkan kelompok
yang kedua adalah jamur pembusuk coklat (brown-rot fungi) yang hanya dapat
menggunakan selulosa dan hemiselulosa sebagai sumber nutrisinya dan
meninggalkan lignin sebagai jaringan yang berwarna coklat. Dan kebanyakan jamur
yang dibudidayakan petani adalah berasal dari kelompok jamur pelapuk putih.
Untuk memperoleh nutrisi, jamur terlebih dahulu mendegradasi
komponen-komponen yang yang ada pada kayu. Salah satu tulisan yang menurut saya
bagus untuk dibaca mengenai proses degradasi komponen kayu oleh jamur pelapuk putih adalah REVIEW; Biodegradation
of Lignin by White Rot Fungi yang ditulis
oleh Leonowicz dan kawan-kawan, 1999. Dalam tulisan ini dirangkum bagaimana
jamur kayu menghancurkan bahan-bahan organik kayu dengan menggunakan sistem
multienzim yang sangat kompleks. Walaupun belum 100% diketahui bagaimana
sebenarnya jamur kayu menghancurkan kayu dan memanfaatkan komponennya sebagai
nutrisi, tetapi berbagai penelitian telah dilakukan untuk mendapatkan bagaimana
mekanisme yang mendekati proses tersebut. Berikut adalah enzim-enzim utama yang
terlibat dalam proses degradasi kompenen kayu.
1.
Kelompok enzim selulosa: endo-1,4-b-glucanases
(EDG; EC 3.2.1.4), exo-1,4-b-glucanases EXG cellobiohydrolases (CBH, EC 3.2.1.91; glucohydrolases
GCH, EC3.2.1.?), dan b-glucosidases (BGS; EC 3.2.1.21)
2.
Kelompok enzim
hemiselulosa: Xylan; endo-1,4-bxylanase(EDX; EC 3.2.1.8), b-xylosidase (BXS; EC3.2.1.37), a-glucuronidase
(AGU; EC 3.2.1.?), a-Larabinofuranosidase(AAF; EC3.2.1.55), dan acetylesterase(AEE;
EC 3.1.1.6). Galaktoglukomanan; endo-1,4-b-mannanase (EDM; EC3.2.1.78), b-mannosidase
(BMS; EC 3.2.1.25), b-glucosidase(BGS; EC 3.2.1.21), dan a-galactosidase
(AGaS; EC3.2.1.22)
3.
Kelompok enzim ligninolitik: lignin peroxidase (LiP; EC
1.11.1.14), manganese–dependent peroxidase (MnP; EC 1.11.1.13),laccase (LAC; EC
1.10.3.2), horseradish peroxidase (HLP;EC 1.11.1.7), and dioxygenases such as
protocatechuate3,4-dioxygenase (P34D; EC 1.13.11.3), 1,2,4-trihydroxybenzene1,2-dioxygenase
(TBH12D), and catechol 1,2-dioxygenese (C12D; EC 1.13.11.1).
Enzim adalah
motor bagi jamur. Dengan enzim ini, jamur dapat memperoleh makanan dari
lingkungannya. Jamur memproduksi enzim secara ekstraselular dari proses metabolisme
sekunder. Pori kayu sangat kecil untuk dimasuki oleh miselia jamur (ukurannya
dalam mikrometer). Sehingga untuk itu jamur melepaskan enzim-enzim ke
lingkungan sekitarnya untuk proses degradasi. Disamping enzim, jamur juga
melibatkan beberapa mediator melekul rendah (low-molecular mediators).
Pelepasan enzim dan molekul ini tentu dipengaruhi beberapa faktor termasuk
ketersedian nutrisi, pH lingkungan, suhu, dan juga ketersedian oksigen.
Bersambung…..
Alat dan bahan untuk memproduksi bibit jamur
Ini adalah lab kecil saya di rumah. Tidak mewah tetapi saya selalu berusaha untuk menjaga kebersihannya. Beberapa hari sekali lantai lab di bersihkan dengan disinfektan. Semakin banyak saya bekerja di lab ini, maka semakin sering pula dibersihkan. Di lab ini saya bekerja untuk mengisolasi jamur, menanam jamur ke media, dan juga untuk tempat menginkubasi bibit jamur. Lab ini masih jauh dari lab yang sempurna, tetapi sudah mencukupi untuk bekerja dalam skala kecil. Tetapi sebaiknya anda tidak menggunakan meja kayu seperti yang saya gunakan saat ini. Ternyata sangat rentan akan kontaminasi. Lebih baik menggunakan meja dari semen atau keramik.
Ini adalah contoh alat-alat di lab yang biasa saya gunakan ketika bekerja dengan jamur. Paling belakang adalah sealer, sementara dari kanan ke kiri adalah alkohol 70%, spritus, semprotan alkohol, scalpel, ose (steak holder), dan pengukur suhu dan kelembaban.
Dari sebelah kanan ke kiri adalah labu Erlenmeyer, cawan petri steril plastik yang berisi 20 buah/bungkus, PDA instant, paling depan sebelah kanan adalah timbangan digital, depan kiri adalah contoh dari PDA instant. Ada juga cawan petri yang terbaik dari kaca, tetapi tidak saya perlihatkan dalam photo ini karena saya tidak menggunakannya lagi. Penggunaan cawan petri kaca baik digunakan apabila kita memiliki oven sebagai alat pensterilisasi. Sebagai catatan, jenis sterilisasi itu ada 3 jenis yaitu sterilisasi basah dengan menggunakan autoclave/presto, sterilisasi kering dengan menggunakan oven, dan kombinasi antara keduanya basah dan kering.
Contoh tumpukan miselia jamur yang saya sub-kulturkan (turunkan) pada cawan petri plastik dengan menggunakan media PDA instant.
Apabila anda membutuhkan alat-alat lab untuk menumbuhkan jamur, anda bisa berkonsultasi dengan saya. Disamping itu, saya terbuka untuk konsultasi masalah jamur terutama jamur-jamur kayu (Basidiomycetes) dan juga dengan senang hati memberikan edukasi/kuliah mengenai jamur kepada siapa saja yang menginginkannya. Beberapa jenis jamur yang pernah saya kembangkan adalah: Beauveria sp, Metarhizium sp, Free living Trichoderma, Endophytic Trichoderma, dan Basidimycetes.
Email: afrida_sitompul@yahoo.com
Telepon: 081388632022
Kamis, 01 November 2012
Teknik Pengisolasian Jamur Melalui Tubuh Buah (F0)
Di awal-awal saya mengenal mikrobiologi yaitu ketika magang di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), pekerjaan yang dilimpahkan ke saya adalah mengisolasi berbagai macam jamur kayu yang dikumpulkan dari hutan. Saya lulusan S1 kimia IPB. Penelitian saya waktu itu tentang enzim jamur kayu digunakan untuk memutihkan bubur kertas (Pulp). Berawal dari penelitian S1 lah saya mengenal jamur. Sampai S2 dan S3, saya melanjutkan tentang topik penelitian yang sama. Di waktu S2 saya benar-benar belajar keras untuk menemukan metode untuk mengisolasi jamur. Terutama pembimbing saya, Dr. Tamai Yutaka mengajarkan saya banyak hal tentang teknik isolasi ini. Waktu itu saya mengumpulkan ratusan sampel jamur baik dari tubuh buah maupun dari kayu-kayu yang sudah lapuk oleh jamur tapi tanpa tubuh buah. Setelah lulus S3, saya bekerja di salah satu perusahaan Kertas di bagian Research and Development (R&D) divisi Forestry (Kehutanan). Kembali lagi, pekerjaan utama saya di awal-awal bekerja adalah untuk mengisolasi jamur. Jadi boleh dibilang, saya sudah mengisolasi ribuan jamur kayu.
Seperti kita ketahui jamur tiram, kancing, shitake, dan enokitake adalah macam-macam jamur kayu. Jadi teknik pengisolasiannya hampir sama satu sama lain. Berikut cara-cara untuk mengisolasi jamur untuk mendapatkan F0 yang murni.
Seperti kita ketahui jamur tiram, kancing, shitake, dan enokitake adalah macam-macam jamur kayu. Jadi teknik pengisolasiannya hampir sama satu sama lain. Berikut cara-cara untuk mengisolasi jamur untuk mendapatkan F0 yang murni.
1. Bekerjalah di dekat api atau bunsen. Sebelum anda mulai bekerja, semprotlah tangan dan juga bagian luar jamur yang akan diisolasi dengan alkohol 70%. Belah dua bagian tubuh buah jamur secara berlahan. Ini berfungsi untuk mengambil jaringan bagian dalam dari jamur. Karena diperkirakan bagian ini steril dan terhindar dari kontaminasi.
2. Ambillah sedikit bagian dari jaringan tubuh buah jamur (kira-kira 1-2 mm2) terutama diantara batang dan payung jamur.
3. Tarulah diatas PDA dengan cara yang sangat steril (di dekat api).
4. Untuk menghemat media dan biaya, taruhlah beberapa potongan kecil jaringan jamur di atas PDA.
5. Dalam satu cawan petri, anda bisa menaruh 4-5 potongan kecil dari jaringan jamur. Agar pengisolasian terhindar dari kontaminasi, segellah bagian pinggir cawan petri dengan plastik wrap atau menggunakan polypore.
6. Setelah jaringan jamur mulai tumbuh pada tahap 5, kemudian murnikan ke cawan petri baru yang telah diisi PDA. Tahap ini disebut tahap pemurnian yaitu untuk memurnikan jamur dari bakteri atau jamur lainnya. Tahap pemurnian ini bisa dilakukan beberapa kali sampai didapatkan F0 yang murni. Semakin murni F0 yang di dapat, Insya Allah semakin baik bibit yang akan digunakan nantinya.
7. Setelah pemurnian, F0 yang murni dapat di simpan di dalam botol-botol kultur untuk disimpan dalam jangka waktu yang lama. Apabila anda membutuhkan bibit F0, maka anda tidak perlu setiap hari mengisolasi. Cukup anda mengambil dari stock kultur yang ada. Tetapi perlu diingat, semakin sering kita menurunkan F0 ini ke PDA, bisa jadi potensial jamur tersebut semakin menurun. Sebaiknya anda harus mengetahui turunan berapa F0 yang anda akan gunakan. Ini berfungsi agar kualitas bibit yang anda turunkan nantinya tetap terjaga baik.
Semoga Teknik pengisolasian jamur diatas bermanfaat. Apabila ada pertanyaan atau komentar, saya akan sangat senang sekali. Silahkan hubungi saya di afrida_sitompul@yahoo.com atau telpon saya di 081388632022.
Afrida S.
Kamis, 25 Oktober 2012
Beberapa photo hasil percobaan saya di rumah
Jamur tiram saya tumbuhkan pada sisa kotak susu cair
Jamur tiram ini saya tumbuhkan pada media serbuk kayu tanpa adanya penambahan dedak. Jamur ini menunjukkan primordianya (Pinhead) pada hari ke 20 setelah penanaman bibit. Saya sangat menyukai experimen ini, walaupun menurut saya hasilnya belum maksimal seperti yang saya harapkan tetapi setidaknya saya bisa menunjukkan kepada seluruh petani jamur, bahwa penambahan nutrisi sederhana seperti gula dan dedak tidak menjamin cepatnya pembentukan jamur. Baglog ini panjangnya 1 meter.
Photo jamur tiram yang ditanaman pada baglog 1 meter diambil dari dekat.
Contoh baglog yang menunjukkan pertumbuhan miselia yang sehat. Miselia ini tumbuh dengan agresif disebabkan karena adanya nutrisi dan juga supplai oksigen yang cukup.
Saya dan jamur tiram yang saya tumbuhkan pada baglog 1 meter.
Jika anda punya pertanyaan atau ingin diskusi, silahkan kirimkan Email ke afrida_sitompul@yahoo.com atau telepon 081388632022.
Jumat, 19 Oktober 2012
Tips sukses dalam membudidayakan jamur
Beberapa tips berikut sangat penting untuk suksesnya membudidayakan jamur, antara lain;
1. Kebersihan; kebersihan sangat diutamakan untuk keberhasilan dalam membudidayakan jamur.Kumbung dan tempat pembibitan adalah dua tempat yang harus diutamakannya kebersihannya karena kalau tidak kontaminasi akan bersarang disana. Kemudian lingkungan sekitar kumbung harus juga bersih dan jauh dari sampah.
2. Sebaiknya kumbung terpisah dengan tempat pembibitan. Ini juga dimaksudkan untuk mengurangi kontaminasi pada saat anda memasukkan bibit ke dalam baglog. Sering-seringlah membersihkan tempat pembibitan selama anda bekerja terutama sisa-sisa serbuk kayu yang terbuang ke lantai.
3. Sebelum memulai pembibitan sebaiknya tempat anda bekerja disemprot dengan alkohol atau disinfektan. Kemudian diamkan sekitar 1-2 jam. Baru anda mulai bekerja.
4. Semprotlah tangan anda dengan alkohol 70% dan bekerjalah di dekat bunsen selama anda memasukkan bibit ke dalam baglog. Tidak perlu tergesa-gesa selama pembibitan karena akan hanya memperbanyak presentase kontaminasi.
5. Jangan gunakan bibit yang miselianya telah menua. Biasanya dicirikan dengan miselia yang mulai menguning. Jangan juga gunakan bibit yang telah membentuk tubuh buah jamur karena bibit ini telah mengeluarkan zat-zat tertentu ke lingkungan sekitarnya sehingga dapat memperlambat tumbuhnya miselia di dalam baglog.
6. Bangunlah kumbung yang memiliki sistem sirkulasi udara yang baik.
7. Untuk daerah dataran rendah dengan suhu yang tinggi, memodifikasi kumbung jamur agar suhu dan kelembaban di dalam kumbung diperlukan. Kemudian diperlukan penyiraman dengan intensitas yang lebih sering dibanding daerah dataran tinggi.
Bagi anda yang ingin berdiskusi dengan saya, silahkan kirim Email ke afrida_sitompul@yahoo.com atau telpon: 081388632022.
Afrida S.
1. Kebersihan; kebersihan sangat diutamakan untuk keberhasilan dalam membudidayakan jamur.Kumbung dan tempat pembibitan adalah dua tempat yang harus diutamakannya kebersihannya karena kalau tidak kontaminasi akan bersarang disana. Kemudian lingkungan sekitar kumbung harus juga bersih dan jauh dari sampah.
2. Sebaiknya kumbung terpisah dengan tempat pembibitan. Ini juga dimaksudkan untuk mengurangi kontaminasi pada saat anda memasukkan bibit ke dalam baglog. Sering-seringlah membersihkan tempat pembibitan selama anda bekerja terutama sisa-sisa serbuk kayu yang terbuang ke lantai.
3. Sebelum memulai pembibitan sebaiknya tempat anda bekerja disemprot dengan alkohol atau disinfektan. Kemudian diamkan sekitar 1-2 jam. Baru anda mulai bekerja.
4. Semprotlah tangan anda dengan alkohol 70% dan bekerjalah di dekat bunsen selama anda memasukkan bibit ke dalam baglog. Tidak perlu tergesa-gesa selama pembibitan karena akan hanya memperbanyak presentase kontaminasi.
5. Jangan gunakan bibit yang miselianya telah menua. Biasanya dicirikan dengan miselia yang mulai menguning. Jangan juga gunakan bibit yang telah membentuk tubuh buah jamur karena bibit ini telah mengeluarkan zat-zat tertentu ke lingkungan sekitarnya sehingga dapat memperlambat tumbuhnya miselia di dalam baglog.
6. Bangunlah kumbung yang memiliki sistem sirkulasi udara yang baik.
7. Untuk daerah dataran rendah dengan suhu yang tinggi, memodifikasi kumbung jamur agar suhu dan kelembaban di dalam kumbung diperlukan. Kemudian diperlukan penyiraman dengan intensitas yang lebih sering dibanding daerah dataran tinggi.
Bagi anda yang ingin berdiskusi dengan saya, silahkan kirim Email ke afrida_sitompul@yahoo.com atau telpon: 081388632022.
Afrida S.
Rabu, 17 Oktober 2012
Koleksi kultur murni (F0) yang saya miliki
Saya memiliki beberapa koleksi kultur murni (F0) dari beberapa daerah dan negara yaitu antara lain; Pleurotus ostreatus (tiram putih) asal Jepang termasuk didalamnya yang diisolasi dari hutan (wild), dari petani jamur (cultivar), dan juga bibit F0 khusus untuk temperatur rendah. Jamur tiram putih asal Cina yaitu khusus untuk suhu tinggi. Jamur tiram putih asal Jawa barat dan beberapa daerah lainnya di Indonesia. Disamping jamur tiram putih, saya juga mempunyai koleksi jamur tiram pink (Pleurotus salmoneostramineus), Pleurotus pulmonarius (Indonesia), Jamur tiram abu-abu (Pleurotus sajour caju, Indonesia dan Jepang), Shitakee (Lentinus edodes, Indonesia), dan jamur merang (Volvariella volvacea, Indonesia).
Pemesanan Bibit Jamur
Foto atas adalah bibit F0 (kultur murni) pada media PDA dengan menggunakan cawan petri plastik steril. Sedangkan foto dibawahnya adalah contoh bibit F1 dengan menggunakan media serbuk kayu dan jagung biji dengan perbandingan 1:4 dikemas dalam plastik dengan menggunakan micropore untuk sirkulasi udara. Media plastik digunakan untuk mempermudah pengaplikasian bibit jamur oleh para petani, kemudian kelebihan media plastik juga memperkecil kontaminasi selama pembibitan. Kelebihan lainnya, dengan menggunakan plastik, akan mempermudah pengiriman dan menghemat ongkos kirim. Untuk informasi selanjutnya silahkan hubungi saya di 081388632022 atau afrida_sitompul@yahoo.com.
Minggu, 09 September 2012
Dijual Bibit Jamur
Untuk memenuhi kebutuhan petani jamur akan bibit yang baik, maka saya mencoba memproduksi bibit jamur terutama jamur tiram. Saya menyediakan bibit F0, F1, F2, dan F3. Semua tergantung pemesanan. F1, F2, dan F3 dikemas pada plastik. Hal ini untuk memudahkan pengiriman dan penghematan ongkos kirim. Kemasan plastik yang digunakan menggunakan micropore agar membantu sirkulasi oksigen yang baik sehingga kualitas bibit Insya Allah terjamin.
Apabila anda tertarik untuk meng-order, silahkan hubungi ke:
Email: afrida_sitompul@yahoo.com
Telepon: 081388632022
Apabila anda tertarik untuk meng-order, silahkan hubungi ke:
Email: afrida_sitompul@yahoo.com
Budidaya Jamur Tiram pada Daerah Panas
Sebelumnya saya pernah menulis tentang budidaya jamur tiram secara umum. Pada kesempatan ini saya akan coba membahas budidaya jamur tiram untuk daerah panas. Tulisan ini berdasarkan pengalaman saya yang tinggal di Balikpapan yang terkenal dengan panas, dataran rendah (pinggir pantai), dan memliki kelembapan tinggi (75-90%).
Seperti kita ketahui, bahwa jamur menyukai kondisi yang lembab tetapi kering. Miselia jamur tiram dapat tumbuh pada suhu antara 27-28 derajat celcius dengan kelembaban 80-90%. Untuk pembentukan tubuh, jamur tiram tidak begitu tergantung kepada suhu, tetapi sangat bergantung pada kelembaban, baiknya antara 95-99%. Disamping kelembaban, pembentukan tubuh buah memerlukan ketersedian oksigen. Untuk mendapatkan oksigen, baiknya petani membuat sebaik mungkin sirkulasi udara yang baik pada kumbung.
Apabila suhu sekitar 30 derajat dan kelembaban dibawah 80%, kemungkinan produksi pembentukan tubuh buah akan menurun. Oleh sebab itu, baiknya para petani harus memodifikasi kumbungnya dengan cara membuat saluran air disekitar kumbung. Agar murah, bisa menggunakan bambu. Alternatif lain, bisa membuat kolam-kolam kecil di bawah rak.
Dari uraian singkat diatas, ada dua hal yang harus sangat diperhatikan petani jamur daerah panas, yaitu:
1. kelembaban (90-99%)
2. Ketersedian Oksigen (sirkulasi kumbung yang baik)
Seperti kita ketahui, bahwa jamur menyukai kondisi yang lembab tetapi kering. Miselia jamur tiram dapat tumbuh pada suhu antara 27-28 derajat celcius dengan kelembaban 80-90%. Untuk pembentukan tubuh, jamur tiram tidak begitu tergantung kepada suhu, tetapi sangat bergantung pada kelembaban, baiknya antara 95-99%. Disamping kelembaban, pembentukan tubuh buah memerlukan ketersedian oksigen. Untuk mendapatkan oksigen, baiknya petani membuat sebaik mungkin sirkulasi udara yang baik pada kumbung.
Apabila suhu sekitar 30 derajat dan kelembaban dibawah 80%, kemungkinan produksi pembentukan tubuh buah akan menurun. Oleh sebab itu, baiknya para petani harus memodifikasi kumbungnya dengan cara membuat saluran air disekitar kumbung. Agar murah, bisa menggunakan bambu. Alternatif lain, bisa membuat kolam-kolam kecil di bawah rak.
Dari uraian singkat diatas, ada dua hal yang harus sangat diperhatikan petani jamur daerah panas, yaitu:
1. kelembaban (90-99%)
2. Ketersedian Oksigen (sirkulasi kumbung yang baik)
Kamis, 28 Juni 2012
Pembuatan media F0 atau kultur jamur
Dari sekian banyak petani jamur yang saya temui, masih banyak hal-hal yang kurang dipahami mengenai pembuatan media F0. Dalam istilah mikrobiologi kegiatan ini adalah pengkulturan miselia jamur pada media agar. Media yang umum di kenal para petani untuk pengkulturan jamur adalah potato dextrose agar (PDA). jamur juga banyak dikulturkan para peneliti jamur pada media malt extract agar (MEA). Dibandingkan media MEA, PDA lebih kaya nutrisi glukosa. Sebagian jamur kayu tidak bisa hidup pada media yang kaya nutrisi sehingga pertumbuhan jamur menjadi lambat, sehingga penggantinya digunakan media MEA.
Kita bisa mendapatkan bibit F0 dari jaringan tubuh buah jamur dan spora. Masing-masing ada keunggulan dan kelemahan membuat bibit dari jaringan tubuh buah jamur dan spora, antara lain:
- Keunggulan membuat bibit dari jaringan tubuh buah jamur: lebih mudah dan praktis. Apabila jamur yang diambil jaringannya dari species yang unggul, maka turunan berikutnya juga akan unggul.
Kelemahannya: apabila jamur yang diambil jaringannya dari species yang tidak bagus, maka turunannya juga akan tidak bagus.
-Keunggulan membuat bibit dari spora: Bisa menghasilkan keturunan yang berbeda dari induknya dan juga bisa lebih baik.
Kelemahannya: Bisa menghasilkan keturunan yang tidak kurang bagus dari induknya. Mengembangkan F0 dari spora lebih rentan untuk kontaminasi disaat pengisolasian dan lebih rumit dibandingkan teknik jaringan.
Dari alasan di atas, maka F0 lebih banyak dikembangkan dari jaringan tubuh buah jamur (teknik jaringan).
Teknik isolasi tubuh buah jamur dari jaringan;
1. Penyedian media PDA, pada postingan sebelumnya saya telah menulis cara membuat PDA sendiri. Tetapi sebagai saran, apabila anda ingin serius untuk mendapatkan bibit F0 yang baik, saya lebih menyarankan untuk menggunakan media PDA instant yang bisa dibeli supplier-supplier alat-alat dan bahan mikrobiologi. Atau apabila anda ingin membelinya dalam skala kecil, anda bisa menghubungi saya. Harga PDA instant bervariasi mulai 800.000 (buatan India) sampai jutaan. Umumnya ukurannya 500 gram PDA. Dengan berat 500 gr, kita bisa membuat 12,8 L media. Saya menyarankan media instant karena komposisinya lebih tepat untuk menstimulasi pertumbuhan jamur dan tentunya lebih praktis.
2. Penyediaan alat petri dish (dalam bahasa indonesia cawan petri. Saya lebih menyarankan pembuatan F0 pada cawan petri dibandingkan di dalam botol-botol. Hal ini disebabkan, karena apabila menggunakan botol akan lebih rumit untuk mendapatkan F0 yang murni atau bebas dari bakteri atau jamur pengkontaminasi.
3. Teknik pengisolasian;
- Bersihkan meja atau laminar atau tempat anda bekerja dengan menyemprotkan alkohol 70% alkohol. Kemudian lap dengan lap bersih, kalau bisa lap yang telah disterilkan terlebih dahulu, atau lap dengan menggunakan tissue. Jangan lupa untuk menyemprot alat-alat yang akan anda gunakan seperti bunsen, scalpel, atau pinset dengan menggunakan alkohol 70%. Tuangkan sekitar 10-20 ml alkohol 95% ke botol atau wadah kecil untuk menempatkan scapel atau pinset.
- Isilah bunsen dengan spritus sebagai bahan bakar.
- Semprot bagian luar jamur dengan alkohol 70%. Lalu bekerjalah dengan dengan api bunsen. Belah dualah secara berlahan tubuh buah jamur. Kemudian ambillah bagian tengahnya (kira-kira 0,1-0,3 cm) dengan scalpel atau pinset. Taruh diatas media agar yang telah di tuang ke dalam cawan petri. Dalam satu cawan petri, bisa di taruh 4-5 titik jaringan jamur. Tutup cawan petri dengan tututpnya dan balut bagian sisi luar cawan petri dengan wrapping atau micropore. Inkubasi pada suhu kamar 25-30 derajat celcius dan tunggu 3-4 hari.
- Begitu jamur sudah tumbuh dari jaringan jamur, ambillah sedikit bagian miselia jamur yang tumbuh (1x1 cm) dan tempatkan pada cawan petri baru yang telah mengandung media PDA dan inkubasi pada suhu kamar untuk 5-7 hari. Setelah tumbuh dan tidak ada kontaminasi, F0 siap untuk dikembangkan untuk bibit F1 pada media biji-bijian.
Teknik pengisolasian yang saya tulis ini berdasarkan pengalaman saya mengembangkannya di lab mikrobilogi dan di rumah. apabila anda belerja di rumah, anda bisa menggunakan panci presto sebangai pensterilisasi. Untuk membuat media PDA dengan panci presto, setelah panci bener-benar panas yaitu pada saat uap banyak keluar, tunggulah sekitar 30 menit. Setelah itu, matikan kompor dan tunggu sampai suhu 40 derajat celcius.
Silahkan hubungi saya di afrida_sitompul@yahoo.com apabila anda mempunyai pertanyaan sekitar budidaya jamur.
Afrida S.
Kita bisa mendapatkan bibit F0 dari jaringan tubuh buah jamur dan spora. Masing-masing ada keunggulan dan kelemahan membuat bibit dari jaringan tubuh buah jamur dan spora, antara lain:
- Keunggulan membuat bibit dari jaringan tubuh buah jamur: lebih mudah dan praktis. Apabila jamur yang diambil jaringannya dari species yang unggul, maka turunan berikutnya juga akan unggul.
Kelemahannya: apabila jamur yang diambil jaringannya dari species yang tidak bagus, maka turunannya juga akan tidak bagus.
-Keunggulan membuat bibit dari spora: Bisa menghasilkan keturunan yang berbeda dari induknya dan juga bisa lebih baik.
Kelemahannya: Bisa menghasilkan keturunan yang tidak kurang bagus dari induknya. Mengembangkan F0 dari spora lebih rentan untuk kontaminasi disaat pengisolasian dan lebih rumit dibandingkan teknik jaringan.
Dari alasan di atas, maka F0 lebih banyak dikembangkan dari jaringan tubuh buah jamur (teknik jaringan).
Teknik isolasi tubuh buah jamur dari jaringan;
1. Penyedian media PDA, pada postingan sebelumnya saya telah menulis cara membuat PDA sendiri. Tetapi sebagai saran, apabila anda ingin serius untuk mendapatkan bibit F0 yang baik, saya lebih menyarankan untuk menggunakan media PDA instant yang bisa dibeli supplier-supplier alat-alat dan bahan mikrobiologi. Atau apabila anda ingin membelinya dalam skala kecil, anda bisa menghubungi saya. Harga PDA instant bervariasi mulai 800.000 (buatan India) sampai jutaan. Umumnya ukurannya 500 gram PDA. Dengan berat 500 gr, kita bisa membuat 12,8 L media. Saya menyarankan media instant karena komposisinya lebih tepat untuk menstimulasi pertumbuhan jamur dan tentunya lebih praktis.
2. Penyediaan alat petri dish (dalam bahasa indonesia cawan petri. Saya lebih menyarankan pembuatan F0 pada cawan petri dibandingkan di dalam botol-botol. Hal ini disebabkan, karena apabila menggunakan botol akan lebih rumit untuk mendapatkan F0 yang murni atau bebas dari bakteri atau jamur pengkontaminasi.
3. Teknik pengisolasian;
- Bersihkan meja atau laminar atau tempat anda bekerja dengan menyemprotkan alkohol 70% alkohol. Kemudian lap dengan lap bersih, kalau bisa lap yang telah disterilkan terlebih dahulu, atau lap dengan menggunakan tissue. Jangan lupa untuk menyemprot alat-alat yang akan anda gunakan seperti bunsen, scalpel, atau pinset dengan menggunakan alkohol 70%. Tuangkan sekitar 10-20 ml alkohol 95% ke botol atau wadah kecil untuk menempatkan scapel atau pinset.
- Isilah bunsen dengan spritus sebagai bahan bakar.
- Semprot bagian luar jamur dengan alkohol 70%. Lalu bekerjalah dengan dengan api bunsen. Belah dualah secara berlahan tubuh buah jamur. Kemudian ambillah bagian tengahnya (kira-kira 0,1-0,3 cm) dengan scalpel atau pinset. Taruh diatas media agar yang telah di tuang ke dalam cawan petri. Dalam satu cawan petri, bisa di taruh 4-5 titik jaringan jamur. Tutup cawan petri dengan tututpnya dan balut bagian sisi luar cawan petri dengan wrapping atau micropore. Inkubasi pada suhu kamar 25-30 derajat celcius dan tunggu 3-4 hari.
- Begitu jamur sudah tumbuh dari jaringan jamur, ambillah sedikit bagian miselia jamur yang tumbuh (1x1 cm) dan tempatkan pada cawan petri baru yang telah mengandung media PDA dan inkubasi pada suhu kamar untuk 5-7 hari. Setelah tumbuh dan tidak ada kontaminasi, F0 siap untuk dikembangkan untuk bibit F1 pada media biji-bijian.
Teknik pengisolasian yang saya tulis ini berdasarkan pengalaman saya mengembangkannya di lab mikrobilogi dan di rumah. apabila anda belerja di rumah, anda bisa menggunakan panci presto sebangai pensterilisasi. Untuk membuat media PDA dengan panci presto, setelah panci bener-benar panas yaitu pada saat uap banyak keluar, tunggulah sekitar 30 menit. Setelah itu, matikan kompor dan tunggu sampai suhu 40 derajat celcius.
Silahkan hubungi saya di afrida_sitompul@yahoo.com apabila anda mempunyai pertanyaan sekitar budidaya jamur.
Afrida S.
Jumat, 15 Juni 2012
Cara membuat media Potato Dextrose Agar (PDA)
Media yang umum digunakan untuk menumbuhkan jamur adalah potato dextrose agar (PDA). Media ini sangat kaya nutrisi karena kandungan ekstrak kentang dan juga dektrosa. PDA dapat di buat sendiri baik di laboratorium maupun di rumah dengan menggunakan peralatan dapur.
Bahan
400 gr kentang (kupas kulitnya)
15 gr dektrosa
15 gr agar-agar
1000 ml air (suling atau sumur)
Alat
Erlenmeyer flask (botol)
Panci
Pisau
Autoclave (bisa diganti dengan panci presto apabila bekerja di rumah)
Cara kerja
1. Potang kentang dadu (3x3x3 cm) kemudian tambahkan air 1L.
2. Rebus kentang hingga mendidih, kemudian kecilkan api dan biarkan selama 1 jam. Ini berfungsi agar sari-sari dari kentang terlarut ke dalam air. Selama 1 jam, air terus ditambah agar volume tetap 1 L.
3. Saring dengan kain kasa (lebih baik 2x penyaringan)
4. Diamkan 1 malam atau beberapa jam untuk mengendapkan residu kentang.
5. Saring kembali dan tambahkan air sampai vol 1 L dan masukkan ke dalam Erlenmeyer flask (botol)
6. Hangatkan kembali kentang dan tambahkan dektrosa dan agar
Catatan: cara kerja 4 dan 5 juga tidak apa-apa untuk dilewatkan.
Apabila autoclave tersedia, maka media PDA yang telah dibuat disterilkan selama 15 menit pada suhu 121 derajat celcius dan 1 ATM. Tetapi apabila tidak tersedia autoclave, gunakan panci presto. Setelah panci presto panas, mulailah menghitung waktu, setidaknyadiamkan media PDA dalam panci selama 30 menit. Setelah itu biarkan media dingin. Apabila Erlenmeyer sudah bisa dipegang (kira-kira temperatur 40 derajat), maka media bisa dituang ke petri dish (cawan) ataupun botol kultur.
Sebagai informasi: Pengalaman saya membuat media PDA di rumah atau menggunakan alat-alat dapur, cukup ribet. Untuk lebih praktisnya, PDA instant lebih baik kualitas maupun kebersihan dalam pembuatannya. Kemudian PDA buatan sendiri terkadang kekentalan agarnya tidak pas. Apalagi kalau menggunakan agar-agar untuk makanan sebagai pengentalnya.
Sebelumnya saya juga menggunakan cawan Petri yang terbuat dari kaca dan saya sterilkan dengan menggunakan panci presto. Kesterilan bisa dicapai, tetapi muncul masalah dengan uap air disekeliling cawan. Uap air ini mengundang datangnya kontaminasi bakteri. Sehingga sekarang saya menggunakan cawan petri plastik yang sudah steril dari pabrik. Keuntungannya sudah steril dan tinggal dipakai. Kerugiannya, hanya bisa sekali pakai dan harganya sedikit mahal.
Apabila anda ingin berkonsultasi seputar budidaya jamur, silahkan kirim email ke afrida_sitompul@yahoo.com.
Salam,
Afrida S.
Bahan
400 gr kentang (kupas kulitnya)
15 gr dektrosa
15 gr agar-agar
1000 ml air (suling atau sumur)
Alat
Erlenmeyer flask (botol)
Panci
Pisau
Autoclave (bisa diganti dengan panci presto apabila bekerja di rumah)
Cara kerja
1. Potang kentang dadu (3x3x3 cm) kemudian tambahkan air 1L.
2. Rebus kentang hingga mendidih, kemudian kecilkan api dan biarkan selama 1 jam. Ini berfungsi agar sari-sari dari kentang terlarut ke dalam air. Selama 1 jam, air terus ditambah agar volume tetap 1 L.
3. Saring dengan kain kasa (lebih baik 2x penyaringan)
4. Diamkan 1 malam atau beberapa jam untuk mengendapkan residu kentang.
5. Saring kembali dan tambahkan air sampai vol 1 L dan masukkan ke dalam Erlenmeyer flask (botol)
6. Hangatkan kembali kentang dan tambahkan dektrosa dan agar
Catatan: cara kerja 4 dan 5 juga tidak apa-apa untuk dilewatkan.
Apabila autoclave tersedia, maka media PDA yang telah dibuat disterilkan selama 15 menit pada suhu 121 derajat celcius dan 1 ATM. Tetapi apabila tidak tersedia autoclave, gunakan panci presto. Setelah panci presto panas, mulailah menghitung waktu, setidaknyadiamkan media PDA dalam panci selama 30 menit. Setelah itu biarkan media dingin. Apabila Erlenmeyer sudah bisa dipegang (kira-kira temperatur 40 derajat), maka media bisa dituang ke petri dish (cawan) ataupun botol kultur.
Sebagai informasi: Pengalaman saya membuat media PDA di rumah atau menggunakan alat-alat dapur, cukup ribet. Untuk lebih praktisnya, PDA instant lebih baik kualitas maupun kebersihan dalam pembuatannya. Kemudian PDA buatan sendiri terkadang kekentalan agarnya tidak pas. Apalagi kalau menggunakan agar-agar untuk makanan sebagai pengentalnya.
Sebelumnya saya juga menggunakan cawan Petri yang terbuat dari kaca dan saya sterilkan dengan menggunakan panci presto. Kesterilan bisa dicapai, tetapi muncul masalah dengan uap air disekeliling cawan. Uap air ini mengundang datangnya kontaminasi bakteri. Sehingga sekarang saya menggunakan cawan petri plastik yang sudah steril dari pabrik. Keuntungannya sudah steril dan tinggal dipakai. Kerugiannya, hanya bisa sekali pakai dan harganya sedikit mahal.
Apabila anda ingin berkonsultasi seputar budidaya jamur, silahkan kirim email ke afrida_sitompul@yahoo.com.
Salam,
Afrida S.
Ilustrasi bagaimana membudidayakan jamur tiram
Ini adalah salah satu link yang saya suka yaitu "Mushroom Growers Handbook 1" satu Bab akan saya tunjukkan di blog ini. Bab ini menceritakan bagaimana memproduksi dan membudidayakan jamur.
http://www.fungifun.org/mushworld/Oyster-Mushroom-Cultivation/mushroom-growers-handbook-1-mushworld-com-chapter-3-1.pdf
http://www.fungifun.org/mushworld/Oyster-Mushroom-Cultivation/mushroom-growers-handbook-1-mushworld-com-chapter-3-1.pdf
Budidaya Jamur Tiram
Masyarakat Indonesia sedang giat-giatnya mengembangkan jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus). Sebenarnya ada beberapa keluarga jamur tiram seperti jamur tiram merah muda (Pleurotus djamor), jamur tiram abu-abu (Pleurotus cystidius), jamur tiram kuning (Pleurotus citrinipileatus).
Pada umumnya cara membudidayakan jamur apa saja, hampir sama satu sama lain. Apalagi kalau bibit induknya berasal dari daerah yang sama. Tetapi kadang setiap jamur punya kebutuhan temperatur, cahaya, oksigen, CO2, dan komposisi nutrisi yang berbeda-beda.
1. Substrat
Jamur tiram adalah jamur yang paling besar untuk jangkauan substratnya. Hampir semua jenis kayu keras (hardwood) ditumbuhi jamur tiram. Mereka juga bisa ditanam pada substrat jerami, cocopeat (sabuk kelapa), rumput-rumputan, ampas tebu, kulit kacang tanah, dan juga kulit kopi.
2. Nutrisi
Jamur tiram memerlukan Karbon sebagai nutrisi utama dan nitrogen untuk pembentukan protein. Disamping itu, jamur tiram memerlukan nutrisi pendukung seperti K, P, Si, Fe, Mg. Biasanya nutrisi pendukung ini tersedia dalam jumlah kecil pada kayu ataupun dedak, kapur, atau gypsum yang ditambahkan.
3. Lingkungan
Miselia jamur tiram tumbuh pada kisaran 20-30 derajat celcius. Pins head (primordia) terbentuk pada kisaran 10-20 derajat celcius. Kadar air substrat 60-75%. Selama pembentukan tubuh buah memerlukan kelembapan udara sekitar 80-90%. Pada saat pertumbuhan miselia, cahaya tidak begitu banyak dibutuhkan tetapi pada tahap produksi tubuh buah diperlukan sirkulasi udara dan pencahayaan yang baik. Bagaimana baiknya pun nutrisi yang ada pada media, tetapi apabila kondisi yang diberikan selama inkubasi dan pembentukan tubuh buah, semuanya bisa gagal untuk mendapatkan hasil yang baik.
Para petani sebaiknya mengerti kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan jamur selama pemeliharaan. Jamur tiram putih juga memiliki beberapa 'strain'. Bisa jadi sama-sama jamur tiram putih tetapi karakternya berbeda. Bibit F0 yang paling baik adalah diperoleh dari alam (hutan) yang kemudian dikulturkan di laboratorium dan dikembangbiakkan untuk digunakan sebagai bibit turunan berikutnya. Tetapi apabila tidak diperoleh tubuh buah dari alam, bisa diisolasi jamur tiram dari tubuh buah yang sehat. Pengisolasian ini membutuhkan teknik tertentu dan juga keterampilan. Ini juga didukung oleh pengalaman. Karena sering kali dalam pengisolasian ini terjadi kontaminasi, baik oleh jamur ataupun bakteri yang tidak diinginkan.
Pada umumnya cara membudidayakan jamur apa saja, hampir sama satu sama lain. Apalagi kalau bibit induknya berasal dari daerah yang sama. Tetapi kadang setiap jamur punya kebutuhan temperatur, cahaya, oksigen, CO2, dan komposisi nutrisi yang berbeda-beda.
1. Substrat
Jamur tiram adalah jamur yang paling besar untuk jangkauan substratnya. Hampir semua jenis kayu keras (hardwood) ditumbuhi jamur tiram. Mereka juga bisa ditanam pada substrat jerami, cocopeat (sabuk kelapa), rumput-rumputan, ampas tebu, kulit kacang tanah, dan juga kulit kopi.
2. Nutrisi
Jamur tiram memerlukan Karbon sebagai nutrisi utama dan nitrogen untuk pembentukan protein. Disamping itu, jamur tiram memerlukan nutrisi pendukung seperti K, P, Si, Fe, Mg. Biasanya nutrisi pendukung ini tersedia dalam jumlah kecil pada kayu ataupun dedak, kapur, atau gypsum yang ditambahkan.
3. Lingkungan
Miselia jamur tiram tumbuh pada kisaran 20-30 derajat celcius. Pins head (primordia) terbentuk pada kisaran 10-20 derajat celcius. Kadar air substrat 60-75%. Selama pembentukan tubuh buah memerlukan kelembapan udara sekitar 80-90%. Pada saat pertumbuhan miselia, cahaya tidak begitu banyak dibutuhkan tetapi pada tahap produksi tubuh buah diperlukan sirkulasi udara dan pencahayaan yang baik. Bagaimana baiknya pun nutrisi yang ada pada media, tetapi apabila kondisi yang diberikan selama inkubasi dan pembentukan tubuh buah, semuanya bisa gagal untuk mendapatkan hasil yang baik.
Para petani sebaiknya mengerti kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan jamur selama pemeliharaan. Jamur tiram putih juga memiliki beberapa 'strain'. Bisa jadi sama-sama jamur tiram putih tetapi karakternya berbeda. Bibit F0 yang paling baik adalah diperoleh dari alam (hutan) yang kemudian dikulturkan di laboratorium dan dikembangbiakkan untuk digunakan sebagai bibit turunan berikutnya. Tetapi apabila tidak diperoleh tubuh buah dari alam, bisa diisolasi jamur tiram dari tubuh buah yang sehat. Pengisolasian ini membutuhkan teknik tertentu dan juga keterampilan. Ini juga didukung oleh pengalaman. Karena sering kali dalam pengisolasian ini terjadi kontaminasi, baik oleh jamur ataupun bakteri yang tidak diinginkan.
Langganan:
Postingan (Atom)






















